Jumat, 15 Juni 2012

Ayah, Kembalikan Tangan Adik


Amir namanya, pria berkeluarga yang dikaruniai 1 orang anak ini sejak dulu ingin membeli sebuah mobil untuk bergergian bersama keluarganya, namun apadaya pekerjaannya hanyalah menjadi seorang ‘kasir’ di sebuah minimarket kecil di bangunan kios di tepian kota. Selain bekerja ia bisa dikatakan rajin dalam beribadah bahkan hampir bisa dikatakan sebagai ‘ustadz’ bila melihat porsi ibadah yang ia lakukan, keinginannya melihat anaknya yang masih berumur 4 tahun itu tumbuh dan menjadi seorang yang berprestasi di dalam bidang Olah Raga khusunya menjadi seorang pemain Baseball di tanah air bahkan di dunia. Istrinya sendiri Anisa selalu tabah menerima kesenangan dan kesusahan rumah tangganya, selalu tersenyum saat merenung selalu menangis kala di landa bahagia.
Anisa wanita yang baik senantiasa memaklumi, menerima, dan mensyukuri apa yang diberikan oleh suaminya walaupun kecukupan ekonomi rumah tangga mereka kadang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-harinya. Seperti biasa jadwal kerja Amir tak tentu kapan, kadang malam menuju pagi, kadang pagi menuju malam namun seringkali ia kedapatan untuk berkeja dari jam malam menuju jam pagi. Bila berada di rumah setiap waktu sholat, mereka selalu melaksanakannya dengan berjama’ah (sholat berjama’ah) mereka bersama-sama berdo’a kepada Allah SWT yang merupakan zat Maha kuasa dan Maha sempurna, terkadang 4 sampai 5 ayat Al-Qur’an mereka baca setelah melaksanakan sholat, begitu juga dengan si kecil Riki yang di ajarkan membaca Iqro selepas berdo’a setelah sholat. Selepas sholat magrib Anisa menyiapkan makanan untuk perbekalan suaminya dan setelah sholat isya Amir berangkat berkerja menggunakan sepeda tua yang ia bawa dari kampung tempat kelahirannya.
Tetap rajin dan gigih saat berkerja pimpinan atau ‘bos’ perusahaan swasta itu mengangkat amir untuk berkerja sebagai manager di mini market itu karena mengetahui Amir disiplin dan pengetahuan berbisnisnya tinggi. Mendengar hal itu Amir sangat senang bahkan saat pulang Amir dan keluarganya menangis haru mengetahui berita itu bahkan Riki pun ikut menangis tanpa sebab entah karena ketakutan atau sedih atau apa saja. Seminggu setelah kejadian itu Amir masih tetap taat beribadah dan mensykuri atas apa yang ia dan keluarganya dapatkan, makin hari rezeki yang datang padanya semakin bertambah hingga pada suatu hari Amir bisa membeli rumah yang cukup mewah di tengah-tengah kota akhrinya mereka sekeluarga pergi untuk pindah kerumah baru itu dan menyewa seorang pembantu untuk membereskan dan membersihkan rumahnya. Sejak itu lah sifat Amir berubah, jarang berada di rumah, sering melalaikan sholat dengan alasan ‘sibuk’ tidak seperti saat ia berkerja dahulu selalu meluangkan waktu sekecil mungkin untuk melaksanakan sholat, Anisa selalu merasa sedih mengetahui sifat dan tingkah laku Amir berubah, ia selalu berdo’a kepada Allah SWT untuk kebaikan dunia dan akherat suaminya namun Anisa tidak berbicara kepada Amir tentang perasaan buruknya itu karena takut membuat Amir marah dan takut dikatakan durhaka kepada suami.
Demi berkerja demi selembar uang kertas Amir melalaikan waktu sholat itupun jika ia di ajak oleh rekan kerjanya, sampai akhirnya ia dapat membeli sebuah mobil mewah dari perusahaan tersebut Amir merasa senang terhadap kerja kerasnya selama ini namun Anisa dan Riki tidak terlalu senang mengetahui hal tersebut karena mereka ditinggalkan oleh kasih sayang kepala kelurga mereka dan ditinggalkan oleh sifat sholehnya yang dulu selalu membawa mereka untuk tetap mengingat Allah SWT.
Sejak saat itu Amir pergi berkeja dan sering mengantarkan Riki yang kini berumur 5 tahun pergi kesekolahnya. Hingga pada suatu hari Amir tidak pergi berkerja dengan menggunakan mobil kebanggaanya tersebut dan tidak mengantarkan Riki karena libur sekolah. Ketika Amir berkerja Riki bocah polos ini menggambar di mobil bapanya tersebut hingga mobil itu banyak oleh tulisan dan gambarannya ‘si’ Riki, kajadian ini tidak diketahui oleh Anisa dan Pembantunya. Sebelum pulang Amir berencana untuk membeli sebuah ‘stick Baseball’ untuk Riki di rumah jadi ia sempat mampir ke toko olahraga terlebih dahulu. Sambil memegang stick baseball wajah Amir berseri-seri membayangkan wajah Riki saat menerima hadiah darinya itu, namun setelah sampai Amir disambut oleh gambar-gambar dan coretan-coretan kotor di mobil kebanggaannya tersebut, Emosi Amir meluap ia langsung berlari kedepan rumah dan berteriak memanggil pembantunya “Odah ! Odah ! KEMARI ! SIAPA YANG MENCORET-CORET MOBIL SAYA INI ? SIAPA !” pembantunya kaget dan menjawab tidak tahu “Maaf tuan, Sumpah saya tidak tahu siapa yang melakukan ini, saya dari pagi membereskan ruangan dan memasak di dapur tuan” tiba-tiba dengan polosnya Riki keluar rumah dan menghampiri ayahnya dengan spidol dan crayon ditangannya seraya bertanya “Ayah bagaimana gamabaran Adik ? baguskan ?” mengetahui itu Amir marah besar dan menghajar kedua tangan Riki oleh stick baseball yang ia pegang, trus dipukul dan di pukul kedua tangan Riki karena Amir sangat emosi dan tidak sadar siapa yang sedang di pukulinya itu, Odah pun sama ia hanya bisa menangis dan berlari memanggil Anisa. Hingga Riki tak sadarkan diri dan tangannya berlumuran darah barulah ia di bawa ke Rumah Sakit oleh Amir Anisa dan Odah, sambil menunggu hasil pengecekan, Amir diam dan menangis keras di kursi tunggu dekat tangga Rumah Sakit sementara Odah dan Anisa tabah, berdzikir dan berdo’a semoga tidak ada hasil yang buruk yang menimpa Riki.
Sampai akhirnya dokter menyatakan kedua tangan Riki harus diamputasi kedua-duanya, dan Amir juga Anisa menyetujui apa yang dokter katakan dan diamputasi lah tangannya Riki. Amir sangat merasa bersalah hatinya dimakan oleh rayuan busuk setan yang selalu mengikuti hawa nafsu yang buruk, sampai selesei operasi mereka menghampiri Riki yang diam tanpa lengan itu. Ketika Amir datang Riki langsung berbicara kepada Ayahnya sambil menangis sedih “Yah, Ayah tolong kembaliin tangan adik lagi, adik janji ga akan nyoret-nyoret mobil ayah lagi, tolong kembaliin tangan adik lagi yah.” Mendengar itu semua orang termasuk dokter disitupun menangis ta kuasa menahan kesedihan yang melanda keluarga itu, dan Amirpun akan menyesal seumur hidupnya.

0 comments:

Posting Komentar